Selamat Datang di
Website Himpunan Keluarga Maula Aidid

himpunan keluarga maula aidid

Al-Imam Muhammad Maula Aidid mendirikan rumah dan masjid kecil di lembah Aidid. Tidaklah orang-orang datang ke lembah tersebut kecuali untuk melaksanakan shalat jum’at atau berziarah kepada para Ahli Khair dan para Sholihin.

Suatu Ketika Al-Imam ditanya oleh beberapa orang : “Wahai Imam mengapa engkau mendirikan sebuah masjid yang juga dipakai untuk shalat jum’at sedangkan dilembah ini tidak ada penghuninya”.. Lalu beliau menjawab :” Nanti akan datang suatu zaman yang mana di zaman tersebut banyak sekali ummat yang datang kelembah ini dan bertabaruk “.

Kajian Ilmu

BIOGRAFI IMAM GOZALI - 1

by MUHAMMAD YUSUF AIDID S.Pd

1 Masa kelahiran dan perkembangan Imam Ghazali

            Imam Ghazali lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang asketis yang selalu taat pada agama. Ia selalu berkumpul bersama ulama-ulama dan cendikiawan muslim pada masanya. Suatu ketika ia mendengar ulama menjelaskan bahwa makanan atas jerih payah sendiri adalah paling utama. Perkataan seorang ulama ersebut menjadi pegangan di dalam perjalanan hidupnya yaitu bekerja sebagai Tukang tenun kain wool, serta tidak mengharapkan pemberian dari orang lain walau sedikit.

            Muhammad (ayah al-Ghazali) sangat senang berkhidmah kepada ulama-ulama, dan aktif di dalam bertanya kepada mereka. Apabila mendengar perkataan ulama tentang dosa maka bercucuran air matanya. Doa beliau yang masyhur yaitu memohon pada Allah agar diberi putera- putera yang alim lagi santun kepada orang lain. Doa beliau diterima oleh-Nya, yaitu dengan memiliki anak yang shalih  yaitu Muhammad al-ghazali dan Ahmad al-Ghazali.

            Imam Ghazali lahir di Persia desa Ghazaleh distrik Thus pada tahun 1059. ia lebih dikenal Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Gelar beliau adalah Hujjatul Islam yaitu seorang yang bisa memberikan fatwa dalam sudut pandang agama dan logika. Adapun gelar wangsanya yaitu al-Ghazali. Gelar wangsanya hingga kini menjadi perdebatan. Sebagian ulama mengatakan gelar wangsanya terambil dari sebuah distrik di provinsi Khurasan. Dan sebagian ulama yang lainnya berpendapat bahwa gelar wangsanya terambil dari usaha penenunan ayahnya (Ghazal).

            Sebelum ayahnya meninggal Muhammad dan Ahmad dititipkan kepada seorang ahli tasawuf yaitu  Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Mereka dibekali harta yang sedikit. Mereka berdua ditempa dengan ilmu agama yang representatif. Pada suatu ketika, si sufi tersebut memanggil Muhammad dan Ahmad al-Gazali. Lalu berkata pada mereka berdua: Ayahmu dulu pernah menitipkan sedikit harta untuk mencukupi kalian berdua. Tapi kini harta itu habis seiring untuk pemenuhan hidup kamu berdua. Kini aku hidup serba pas-pasan dan padaku tidak ada harta untuk ku sumbangkan lagi untukku. Saya melihat potensi kamu berdua cukup tinggi untuk mengenyam pendidikan di sebuah madrasah. Nanti kamu akan mendapatkan beasiswa. Melalui keadaan demikian  yang membuat Imam Ghazali ingin menggapai kesuksesan baik di dunia dan di akhirat.

            Selama berada di dalam pengasuhan Ahmad bin Muhammad Ar-Rizakani, Muhammad dan Ahmad al-Ghazali, mereka diajari ilmu fiqih, riwayat para awliya dan kehidupan spiritual mereka. Selain itu mereka belajar tentang tasawuf khususnya cara mahabah kepada Tuhan, syair-syair yang menunjukan bahwa Tuhan sebagai tujuan akhir manusia, dan mengikuti sunah-sunah rasul dari hal yang terkecil sampai hal-hal yang implementatif.

2 Pendidikan Formal Imam Ghazali

            Setelah beberapa waktu, Muhammad al-Ghazali meninggalkan desa kelahirannya menuju pendidikan tinggi di Jurjan. Ia belajar dengan seorang guru besar, yaitu Imam Abu Nashr Ismail. Imam Ghazali mencatat perkuliahannya secara sistematis sehingga memudahkan pemahamannya terhadap ilmu tersebut. Suatu ketika catatannya yang berisikan pelajaran-pelajaran bersama barang-barang lainnya dirampok orang. Lalu ia memberanikan diri untuk mengambil catatan kuliahnya. Lalu sang perampok mengembalikannya tanpa satu syarat apapun karena permohonan al-Ghazali yang penuh harap. Untuk menghafalkan catatan perkuliahannya, ia cukup membutuhkan waktu tiga tahun. Beliau ketika itu berkata: Andaikata catatan-catatan itu sekarang diambil para perampok itu lagi, maka aku tidak lagi merasa kehilangan.

            Pada tahun 1080, Imam Ghazalli menuju Nishapur untuk masuk madrasah Nizamiyah. Madrasah Nizamiyah kala itu menjadi pusat pendidikan yang terpandang. Hal tersebut dikarenakan pengajar-pengajarnya yang berkualitas dan perpustakaannya yang berisikan buku-buku baik buku klasik ataupun buku modern. Salah satu ulama yang tersohor di madrasah Nizamiyah yaitu Imam Haramain al-Juwayni. Ia mengajarkan Al-Quran, hadis, mantiq, retorika, ilmu hikmah, dan filsafat. Menurutnya, Imam al-Ghazali merupakan murid yang cerdas dan  mudah menangkap pesan-pesan keagamaanya. Sehingga Imam Ghazali dijuluki Bahrun Mughdiq artinya lautan luas yang tidak bertepi.

            Setelah Imam al-Juwayni wafat pada tahun 1085, Imam Ghazali meninggalkan Nishapur menuju ke Al-Askar di Baghdad. Ia berkenalan dengan Nizam al-Mulk, wazir istana dinasti Saljuk yaitu sultan Jalal al-din Malikshah. Ia diminta untuk mengajarkan hukum agama di Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Al-Ghazali mengajar disana selama empat tahun. Bukan hanya itu ia diangkat menjadi Rektor Madrasah Nizamiyah pada tahun 484 H.

3. Pengajaran dan Filsafat Imam Ghazali

            Ratusan ulama pejabat pemerintahan, dan yang berkuasa menghadiri perkuliahan Imam Ghazali. Antusiasme para intelektual kala itu karena penyampaian perkuliahan al-Ghazali logis, dan dialogis. Argumen, pemikiran, serta fatwanya biasanya bersifat faktual akan tetapi tidak meninggalkan atsar-atsar pendapat ulama sebelumnya. Kebanyakan bahan pengajaran Imam Ghazali dicatatat oleh Sayyid bin Faris, dan Ibnu Lubban. Keduanya mencatat kira-kira 183 bahan perkuliahan yang diberi nama Majalisul Ghazaliyyah..

Pergaulan beliau selama di sekitar madrasah Nizamiyah tidak terbatas pada orang muslim saja akan tetapi lintas mazhab dan pemikiran. Mulai dari berdialog hingga bertukar nalar dengan kaum Syiah, Sunni, Zindiq, Majusi, teolog, Kristen, Yahudi, Ateis, Zoroaster, dan Animisme. Dengan berdialog dengan mereka, pemikiran al-Ghazali dari fundamentalis berubah menjadi diri yang moderat. Karena dari pergaulan tersebut al-Ghazali mengambil prespektif lintas mazhab dalam mencari kebenaran Tuhan. Selain itu Al-Ghazali suka berkumpul dengan kaum Deis, Matrialis, dan filosof. Dari pergaulan tersebut al-Ghazali terpengaruh oleh penalaran bebas. Ide-ide lamanya luntur seiring hermeutik menjadi pegangannya kala itu.

Diri Imam Ghazali begitu berubah. Perubahan tersebut disebabkan oleh pemikiran rasionalis terhadap kebenaran yang menurutnya bisa diambil dari prespektif manusia intelek. Adapun perkataannya yang bertepi kepada aliran ekstensialis yaitu: Aku telah menerobos setiap celah yang gelap, aku telah menyerang setiap persoalan, aku telah menyelam ke dalam setiap lautan. Aku telah meneliti akidah semua sekte, aku telah menelanjangi semua doktrin rahasia semua komunitas. Semua ini kulakukan agar aku dapat membedakan antara kebenaran dan kesesatan, antara yang sahih dan pembaruan yang bid’ah.

Ide bebas al-Ghazali tentang semua sekte dan agama seolah dirinya bingung dan menghadapi persoalan. Timbulah skeptisme di dalam dirinya bahwa semua aliran intinya mencari cahaya kebenaran. Cahaya kebenaran itulah di refleksikan melalui tekhnik hissyiyat yaitu aliran filsafat yang naturalistik yang datang dari hati. Timbulah pertanyaan dalam diri al-Ghazali: aliran manakah yang betul-betul dari semua aliran itu.

Keadaan al-Ghazali semakin tertekan dengan kondsi bahwa keraguan terhadap kebenaran akal rasionalnya. Hal itu bermula dari polemik pemikiran al-Farabi dan Ibn Sina yaitu mencari realitas sejati berupa penggalian radikal terhadap gejala-gejala objektif yang dipandang oleh diri manusia dan dunia. Pemikiran Farabi soal tujuan akhir manusia yang istimewa terletak dari keunggulan dari nilai dan perbedaan khusus relative manusia. Sehingga al-Ghazali berargumen bahwa para Filsuf tersebut telah menimbulkan persoalan.

Di dalam buku Tahafut Falasifah al-Gazali berujar bahwa jika falsafah membatasi diri pada fenomena duniawi yang teramati, seperti halnya kedokteran, astronomi, atau matematik, tentu ia akan sangat berfaedah tetapi tidak mampu menyatakan apa-apa tentang Tuhan. Bagaimana mungkin orang yang bisa membuktikan doktrin emanasi, entah dengan cara apa pun? Berdasarkan autoritas apa para faylasuf telah menyimpulkan bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat umum dan universal, bukan yang pertikular? Bagaimana membuktikan ini ? Apakah Apakah iman yang teguh menjadi mustahil?

Saat pertanyaan-pertanyaan itu timbul al-Ghazali terkukuhkan sebagai filsuf muslim, karena karakteristik falsafahnya yang unik. Keunikan tersebut terlihat sejak ia mengikuti aliran Hissiyyat yaitu aliran perasaan yang bisa merasiokan yang bersifat naturalistik. Aliran ini sama dengan filsuf Inggris David Hume (1711 – 1776) yang mengemukakan bahwa perasaan adalah sebagai alat yang terpenting dalam falsafah, di waktu dia menentang aliran rasionalisme, yaitu satu aliran falsafah yang timbul abad XVIII. Yang semata-mata berdasar kepada pemeriksaan panca indera dan akal manusia.

Melalui filsafat hissyiyat tersebut al-Ghazali semakin tertekan. Dia kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, mulai dari kehilangan selera makan hingga rasa putus asa. Sekitar tahun 1094, Dia merasa tidak mampu lagi untuk berbicara dan memberi kuliah. “Tuhan telah melumpuhkan lidahku sehingga aku tidak bisa mengajar. Aku penah memaksakan diri untuk mengajar murid-muridku di suatu hari, namun lidahku tak mampu mengucap sepatah kata pun”.

4. Depresi Imam Ghazali  

Saat terguncang hati dan jiwanya dengan autokritik akalnya, depresi gejolak di dalam dirinya. Semua dokter sudah dia kunjungi. Namun, tidak ditemukan satu penyakitpun yang ditemukan oleh mereka. Konflik bathinnya yang membuat kecemasan tersembunyinya berlebih, sehingga semua obat tidak mampu menyembuhkan dirinya. Ia sangat khawatir dengan ancaman neraka yang tidak berhasil mengobati diri.

Kegelisahan  pada diri al-Ghazali merupakan titik jenuh dari ilmu filsafat yang telah ia pahami. Ia merasa perlu berbalik arah kepada Tuhan. Karena petunjuk Tuhan merupakan jalan terbaik bagi orang-orang yang mampu berfikir. Kejenuhan itu ia ekspresikan oleh ungkapan kalimat. “Di saat aku sudah mempelajari ilmu filsafat, ku dapatkan pemahaman mengenainya dan bisa menandai apa saja yang palsu di dalamnya, dan disaat itu aku menyadari kalau ini juga belum memenuhi tujuanku sepenuhnya dan bahwa intelektualitas tidak otomatis bisa memahami atau menyelesaikan semua masalah. “al-Ghazali mengatakan lagi kalau rasa ketidakpuasannya dengan ilmu filsafat menggiringnya untuk mempelajari mistisisme (sufisme), “Aku sadar bahwa ‘jalan’ mistik sepenuhnya termasuk kepercayaan intelektual maupun aktivitas praktis, di mana aktivitas praktis termasuk upaya menyingkirkan hambatan-hambatan di dalam diri sendiri dan moral buruk, sehingga hati kita bisa terbebas dari segala hal yang bukan bersifat Ilahi, dan mengingat-Nya terus menerus.

5 Penentangan al-Ghazali terhadap Filsafat             

Penentang terhadap filsafat kian terasa di dalam jiwa al-Ghazali. Lantas al-Ghazali bisa mengeluarkan ide-idenya dalam menulis kitab Maqasidul falasifah(maksudnya ahli-ahli filsafat) dan Tahafut Al-Falasifah (kekacau-balauan ahli-ahli filsafat. Kitab yang pertama berisi ringkasan-ringkasan dari bermacam-macam ilmu falsafah, mantik, metafisika. Kitab ini sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa latin di akhir abad ke XII M.

Kitab yang kedua memberi kritik yang tajam atas sistem falsafah yang telah diterangkan dalam kitab Maqasid al-falasfifah. Di dalam kitab Tahafut al-falasifah, al-Ghazali memandang para faylasuf adalah ahli bid’ah yaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Di dalam kitab tersebut ia juga menyalahkan faylasuf-faylasuf di dalam pendapatnya, antara lain:

1.      Tuhan tidak mempunyai sifat

2.      Tuhan mempunyai subtansi basith (sederhana), dan tidak mempunyai hakikat.

3.      Tuhan  mengetahui jusiyat (perincian)

4.      Tuhan tidak dapat diberi al-jins (jenis), dan al-fasl (perbedaan)

5.      Planet-planet adalah binatang yang bergerak dengan kemauan

6.      Jiwa planet-planet mengetahui semua juziyat

7.      Hukum Alam tak dapat berubah

8.      Pembangkitan jasmani tidak ada

9.      Alam ini tidak bermula

10.  Alam ini kekal

Tiga dari sepuluh pendapat di atas, menurut al-Ghazali yang membawa kepada kekufuran yaitu :

1.      Alam kekal dalam arti tak bermula

2.      Tuhan mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam.

3.      Pembangkitan jasmani tidak ada

6 Kesufian Imam Ghazali

Kesufian al-Ghazali yang membuat dirinya meninggalkan kedudukan terpandangnya di Baghdad. Ia menyelinap mengenakan jubah sufi dan menyelinap meninggalkan Baghdad pada 488 H. Di tahun itu,ia memutuskan untuk mengasingkan diri ke Damaskus. Ia menghabiskan waktunya di kamar masjid, dengan melakukan ibadah, tafakur, dan berzikir tanpa henti. Disitulah ia menghabiskan waktu selama dua tahun di dalam kesendirian dan kesunyian. Pada umur 27 tahun, ia di tahbis oleh Pir Abu Ali Farrnadi yang juga guru spiritual wazir Nizamul Mulk.

Selama di Damaskus, ia produktif menelaah sifat-sifat hati lewat tulisan yang dibukukan di dalam “Ajaib al-Qalbi, al-Awwal min Rubu al-Muhlikat. Salah satu tulisan yang berkesan dalam menelaah sifat-sifat hati antara lain: “Dalam diri manusia terhimpun empat sifat ini, yaitu  sifat ketuhanan, sifat setan, sifat buas, dan sifat kebinatangan. Semuanya terkumpul di dalam hati atau jiwa manusia. Maka seolah-olah yang ada pada kulit manusia itu adalah babi, anjing, setan dan orang bijak.

Lalu al-Ghazali menjelaskan bahwa Babi identik dengan nafsu syahwat yang rendah. Babi itu tercela bukan karena warna, bentuk atau rupanya, melainkan karena sifat serakah, rakus, dan tamaknya. Sedangkan anjing dipenuhi sifat marah. Binatang buas, termasuk anjing, tidak dianggap sebagai buas dari segi rupa, warna, maupun bentuknya, tetapi karena jiwanya yang buas, gemar menerkam, dan sifatnya yang suka permusuhan dan galak. Dalam hati manusia terdapat sifat buas binatang dan kemarahannya, kerakusan, dan ketamakan babi. Maka babi itu, dengan sifat ketamakannya mengajak manusia kepada perbuatan keji dan munkar, sedangkan binatang buas dengan amarahnya mendorong kepada perbuatan menyakiti orang lain dan kezaliman lainnya. Sementara setan selalu membangkitkan syahwat babi dan amarah binatang buas, menggerakan satu dengan yang lain, dan menghiasi kepada keduanya hal-hal yang mereka sukai.

Tetapi orang bijak, yang menjadi contoh bagi akal, diperintahkan untuk menolak godaan dan tipu daya setan dengan menyingkapkan tabir penipuan setan itu melalui bashirah atau mata hati, yang berkat cahanya yang terang sanggup menembus segala keraguan. Begitu pula, ia sanggup membasmi keserakahan babi dengan menjadikan anjing menguasai babi itu. Sebab, amarah (sifat anjing) bisa mengatasi gelora nafsu syahwat. Sementara sang hakim bernama akal akan menolak kegalakan anjing dengan menjadikan babi menguasai anjing tersebut, lalu si anjing dipaksa tunduk di bawah siasatnya. Jika biasa terwujud demikian, maka urusan menjadi mudah dan keadilan pun lahir di dalam kerajaan tubuh. Lalu berjalan di atas jalan yang lurus, Sebaliknya, apabila manusia tidak dapat mengalahkan mereka , maka mereka akan menundukkan serta menundukkan mereka.

            Dari pembahasan yang begitu panjang tentang hati yang ditulis oleh diri al-Ghazali. Maka ia memutuskan untuk bertasawuf guna mendapatkan cahaya ilahi. Karena cahaya Tuhan yang bisa meluruskan manusia ke jalan yang diridhoi oleh Tuhan. Pengetahuan itu yang membuat sadar Imam Ghazali dan memperoleh keyakinannya kembali.

            Adapun ekspresi cahaya Tuhan diungkapkan oleh al-Ghazali : “ Cahaya itu kunci dari kebanyakan pengetahuan dan siapa menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung pada argumen-argumen, sebenarnya ia telah mempersempit rahmat Tuhan yang begitu luas. Cahaya yang disinarkan Tuhan yang disinarknan ke dalam hati sanubari seseorang.

            Tasawuf menurut al-Ghazali merupakan jalan cahaya menuju Tuhan. Dengan tasawuf itulah manusia terjaga dari akhlak-akhlak mahmudah. Karena perbuatan, prilaku, dan hati manusia akan selalu diawasi oleh Tuhan. Pengawasan Tuhan tersebut membentuk karakter ihsan melekat pada diri manusia dan kesufiannya lebih nampak di mata Tuhan. Karena Sufi menurut Abu Nashr As-Sarraj adalah apabila seorang hamba telah mampu merealisasikan pennghambaan (ubudiyah), dijernihkan oleh al-Haq sehingga bersih dari kotoran manusiawi, menempati kedudukan syariat dan mendudukan hukum syariat.

 

7.Pokok Tasawwuf Imam Ghazali ...............................