Selamat Datang di
Website Himpunan Keluarga Maula Aidid

Al-Imam Muhammad Maula Aidid mendirikan rumah dan masjid kecil di lembah Aidid. Tidaklah orang-orang datang ke lembah tersebut kecuali untuk melaksanakan shalat jum’at atau berziarah kepada para Ahli Khair dan para Sholihin.

Suatu Ketika Al-Imam ditanya oleh beberapa orang : “Wahai Imam mengapa engkau mendirikan sebuah masjid yang juga dipakai untuk shalat jum’at sedangkan dilembah ini tidak ada penghuninya”.. Lalu beliau menjawab :” Nanti akan datang suatu zaman yang mana di zaman tersebut banyak sekali ummat yang datang kelembah ini dan bertabaruk “.

Artikel Islami

ALAYDRUS LAAN DAN PERANG ACEH

by ALWI SHAHAB

          Menelurusi jalan Gajah Mada menuju Jakarta Kota kita akan mendapati jalan Alaydrus. Terletak bersebelahan dengan jalan KH Hasyim Asy'ari, jalan Alaydrus kini menjadi pusat pertokoan dan perkantoran, yang didominasi kantor biro-biro perjalanan. Disini sudah hampir tidak dijumpai lagi rumah-rumah tempat tinggal, seperti masa kolonial Belanda. Ketika itu jalan ini bernama Alaydrus Laan.
          Belanda memberikan nama boulevard untuk jalan raya utama, seperti Oranye Boulevard dan Nassau Boulevard untuk jalan Imam Bonjol dan jalan Dipenogoro. Jalan Raya kelas satu di pusat kota disebut laan atau straat. Jalan lebih kecil disebut weg, sedangkan jalan kecil atau lorong yang tidak dapat dimasuki mobil disebut gang.
          Jalan Alaydrus, apa pasalnya sampai jalan ini diberi nama demikian ? jawabnya, karena di tempat ini dulu tinggal Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Bukan hanya itu. Seluruh gedung dan rumah yang ada di jalan ini juga miliknya. Termasuk beberapa buah gedung dan pertokoan di jalan Gajah Mada. Di Jatipetamburan, Jakarta Pusat, Habib memiliki rumah dan tanah seluas 11,5 hektar. Memasuki jalan Alaydrus, terdapat beberapa jalan yang pada masa Belanda namanya Husein Laan dan Ismail Laan. Nama kedua putra Habib Abdullah.
          Seperti dituturkan oleh menantunya Habib Abubakar Alaydrus ( 90 tahun ), mertuanya ( Habib Abdullah bin Husein Alaydrus ) memiliki 80 buah gedung di jalan Alaydrus dan 25 buah gedung di jalan Gajah Mada. Dari gedung-gedung dan tanah yang disewakan ini, Habib Abdullah mendapatkan penghasilan 12 ribu gulden tiap bulan. Waktu itu, harga beras paling mahal hanya tujuh setengan gulden per karung ( 100 kg ).
          Untuk memperlancar tagihan sewa menyewa rumah dan gedung, ia mendirikan Bouwmatchappij Abdullah bin Husein Alaydrus. Orientalis Belanda LWC van der berg yang mengadakan penelitian orang-orang Hadhramaut di Nusantara ( 1884-1886 ) menyebutkan, di Batavia hanya empat orang Arab yang penghasilannya di atas 12 ribu gulden per tahun.
          Habib Abdullah juga dikenal dermawan. Ketika perang Aceh, pada akhir abad ke-19, ia banyak membantu perjuangan para pahlawan dari Tanah Rencong ini dalam melawan Belanda, dengan cara mengirimkan senjata-senjata yang diselundupkannya dari Singapura. Agar tidak dicurigai Belanda, kapal yang membawa senjata ini ditutup dengan sayur-mayur.
          Dia juga dikenal sebagai orang pro-Turki ketika masih dipimpin Ottoman. Tidak heran saat pecah perang dunia pertama, ia banyak memberikan bantuan uang pada Turki. Karena keterlibatannya itu, pihak Inggeris - yang menjadi lawan utama Turki dan Jerman - ingin menangkap Habib Abdullah. Guna menghindari kejaran Inggeris, ia melarikan diri ke Sumatera.
          Ia baru bisa kembali ke Jakarta setelah diselundupkan lewat sebuah perahu. Ia juga banyak memberikan bantuan untuk memajukan Jamiatul Kheir, pendidikan Islam modern pertama di Jakarta yang didirikan pada 1901. Ketika diminta bantuannya, ia menyuruh orang mengambil sendiri dari lacinya. Bantuan itu, besarnya 2.100 gulden. Jumlah yang sangat besar ketika itu. Mr. Hamid Algadri dalam buku 'Islam dan Keturunan Arab' menyebut Abdullah bin Husein Alaydrus selalu duduk di meja direktur dalam rapat-rapat Syarikat Islam di Jakarta sekitar 1915.
          Sedangkan sejarawan Jerman, Adolf Heuken yang banyak menulis tentang Jakarta emnyebutkan bahwa Sayyid ini banyak membantu perluasan masjid tua 'An-Nawir' di Pekojan, Jakarta Barat. Menurut menantunya, Habib Abubakar, Alaydrus meninggal dunia pada tahun 1936 dalam usia lebih dari 80 tahun. Kekayaannya mulai berkurang ketika terjadi resesi ekonomi yang hebat pada tahun 1930-an ( malaise ). Karena banyak rumah yang kosong ditinggalkan penyewa, hingga ia tidak bisa membayar pinjaman bank. Akibatnya, Bouwmatchappij Alaydrus diambil oleh Bank Nilmij.
          Utang itupun dicicil hinggal perang dunia kedua. Ketika Belanda takluk pada jepang, Nilmij beralih lagi kepada Alaydrus. Pihak Jepang mengharuskan agar seluruh utangnya sebesar 700 ribu gulden dibayar. Maka para ahli waris pun mufakat sebagian dari rumah dan gedung dijual pada orang India untuk membayar utang kepada Jepang.
    Tapi setelah Jepang Takluk, maka Nilmij pun berkuasa kembali. Nilai penjualan pada masa Jepang oleh Nilmij hanya ditetapkan sebesar tiga sen per gulden ( 100 sen ). Para ahli walis terpaksa menjual rumah dan kebun untuk menutupinya.

Oleh : Alwi Shahab
Dikutip dari buku : Maria Van Engels Menantu Habib Kwitang
Penerbit : Republika